Tittle : Princess Moon
Genre
: Fantasy, sad
Rating
: 13+
Leght : Two shoot
Cast :
- Sora a.k.a Luna
- Ryu
- Sena
- Kyu
Disclamer : FF ini aku
persembahkan buat temenku, Mia Soraya.
Ini adalah realisasi dari mimpinya
bersama orang yg udah jd bagian dari masa laluku. Semoga suka ya ;)
^^Happy Reading^^
“Semilir angin yang berhembus, membawa hawa dingin yang menyelimuti
tubuh. Setiap lima detik, satu per satu daun mulai berguguran, memberi
kehidupan baru bagi tanah. Daun-daun baru yang mulai tumbuh menandakan musim
telah berganti”
10 Tahun kemudian…
Sora POV
“Kyaaaaa!!!!”, teriakku saat melihat wajahku di dalam
cermin. Astaga! Kenapa harus dengan penampilan seperti ini? Rambut yang kusut,
kulit yang kasar, dan baju yang lusuh. Ini tidak sama dengan diriku.
Keterlaluan! Ini gara-gara ayah!!!
*Flash back*
“Luna! Cepat kemari!”
Dengan cepat aku berlari menemui ayahku.
“Ada apa ayah? Ha! Aku tahu, ayah pasti ingin memberiku
hadiah, iya kan?”
“Ah! Kau ini! Sudah besar
tapi masih saja seperti anak kecil. Baiklah, ayah akan memberimu hadiah
tapi jika kau bisa menyelesaikan misi yang satu ini”
“Apa? Misi? Harus sesulit itukah?”
“Anak kecil! Untuk itulah, kau harus merubah sikapmu!”, kata
ayah sambil mengetuk kepalaku.
“Aiss.. Sakit.. Baiklah, misi apa ayah?”
“Ehm… Luna, kau tahu jika sekarang ayah sudah tua kan?”
“mmm..”, jawabku sambil mengangguk.
“Kau tahu jika kau adalah anak ayah satu-satunya kan?”
Aku terdiam sejenak. Pasti ayah akan membahas mengenai
takhta kerajaan.
“Hmm.. Aku paham. Pasti ayah akan membahas tentang calon
penerus ayah kan?”
“Benar.. Hadiah yang akan ayah berikan adalah memberikan
takhta padamu sebagai calon penguasa di negeri bulan ini”
“A-apa? Haruskah membahasnya sekarang? Lagi pula ayah belum
meninggal kan?”
“Aiss.. Kau ini! Tentu saja! Sebelum ayah meninggal, ayah
harus membahas soal ini denganmu. Jadi, berhentilah bermain-main dan jadilah
dewasa mulai sekarang!”, tegas ayah.
“Tapi ayah.. Bukankah pendewasaan itu akan berjalan seiring
dengan waktu?”
“Benar. Tapi, bagaimana bisa jika tanpa usaha?”
Aku berpikir sejenak. Yang dikatakan ayah ada benarnya juga.
“Aiss.. Sudahlah Luna! Apa ayah harus terus memanggilmu anak
kecil hah?” kata ayah sambil mengetuk kepalaku lagi.
“Cukup!Jangan panggil aku anak keil lagi! Baiklah, aku akan
tunjukkan bahwa aku bisa menjadi dewasa dengan usahaku sendiri!”
“Hmm.. Baiklah.. Apa kau bisa menepati janjimu pada ayah?”,
Tanya ayah berusaha meyakinkan.
“ Tt-tentu saja”, jawabku sambil mengerucutkan bibirku.
“Berarti, kau bisa menyelesaikan misi ini kan?”
“Hmm.. Baiklah.. Sebenarnya apa yang ayah inginkan?”
“Aku ingin kau mencari kehidupan barumu di bumi. Selama di
bumi, kau harus merahasiakan identitasmu yang sebenarnya. Ayah akan merubah
penampilanmu. Kau akan hidup mandiri dengan meninggalkan semua kemegahan
disini. Kelak, penampilanmu akan berubah seiring dengan perubahan sikapmu.
Tapi, kau harus menjauhi dua larangan yang akan kau cari sendiri di bumi nanti.
Ingat, ketika kau terperangkap ke dalam larangan-larangan itu maka kau akan
kehilangan semua kekuatanmu. Dan.. Ini.. Ayah akan memberi ini sebagai
pelindung untukmu selama ada di bumi nanti”, jelas ayah panjang lebar.
“Bagaimana? Apa kau bisa?”, kata ayah sambil menyodorkan
sebuah kalung berlian yang sangat cantik.
“ I-iya”, jawabku lalu mengambil kalung itu.
Esok Harinya...
Hari
ini adalah hari turunya aku ke bumi. Dengan cepat aku membereskan semua
barang-barang yang sekiranya aku butuhkan selama berada di bumi. Satu per satu
barang mulai kumasukkan ke dalam tas. Ketika membuka lemari, aku melihat sebuah
album foto tua dan kamera kecil yang terselip diantara tumpukan baju.
“Bagaimana dia sekarang?”, ucapku sambil menatap satu per
satu foto yang terpasang disana.
Selintas terlintas di benakku tentang
kenangan-kenangan yang pernah kulalui di masa lalu. Kenangan yang tidak pernah
kulupakan seumur hidupku.
“Luna? Kenapa lama sekali? Apa yang kau lakukan disini?”,
ucap ayah membuyarkan lamunanku.
“Ah, tidak ayah. Aku hanya sedang membereskan semua
barang-barangku”
“Apa? Barang-barang? Tidak! Tidak ada barang-barang yang
boleh kau bawa ke bumi. Kau harus bertahan hidup dengan caramu sendiri!”
“Yaaa!!! Apaa? Haruskah ayah sekejam itu padaku?”
“Hmm.. Ini demi kebaikanmu”
“Apa? Kebaikan? Tidak! Ini penyiksaan ayah!”
“Terserah! Pokoknya mau tidak mau kau harus ikuti perintah
ayah!”
“Yaaa!!! Tapi ayaaaah!!!!”
“Tidak ada tapi-tapian!”
*Flash back – End*
Hyaaaa!! Awas saja orang tua itu! Kalau ketemunanti akan
kutendang bokongnya!
“Miaw.. Miaw..” Tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh kakiku. Dengan sedikit takut, aku berusaha menunduk.
“Kyaaaa!!! Pergi!!! Sana Pergi!!! Kau siapa?! Hewan apa itu
yang punya rambut seperti itu?! Hiiii!!!!!”, kataku sambil menendang hewan
terkutuk itu.
“Miaw..”, jawabnya sambil meringis kesakitan.
Dengan menahan
rasa sakit, hewan itu berlari meninggalkanku. Bagus! Hewan sepertimu seharusya
enyah dari dunia ini! Beraninya dia menyentuhku! Huh!
“Pangeran Ryu, apa kita harus mencarinya kesana?” terdengar
suara seorang laki-laki yang berhenti di belakangku.
Apa? Ryu? Dengan cepat aku menoleh ke belakang,berusaha
untuk mencari pemilik nama tersebut.
“Ryu?”, kataku terkejut. Dengan berani aku mendekati pria
berkuda putih tersebut.
“Yaaa!!! Siapa kau wanita jelek! Beraninya kau
menyentuhku!”, ucapnya samba mendorongku menjauh darinya.
“Aku Sora. Kau masih mengingatku?”, kataku berusaha
meyakinkan.
“Apa? Sora? Siapa kau! Jangan bermimpi jika aku harus
mengingat orang sepertimu”
Ryu, apa kau benar-benar sudah lupa segalanya? Apa secepat
ini kau melupakanku, Ryu? Oh iya, mana mungkin dia mengenaliku dengan
penampilan seperti ini. Sepert kata ayah, siapapun termasuk Ryu tidak boleh
tahu siapa aku.
“Benar, Ryu.. Tidak mungkin kau mengenali orang sepertiku”
“Apa? Ryu? Beraninya orang miskin sepertimu memanggilku Ryu.
Panggil aku pangeran!”
Apa? Pangeran? Apa
benar dia Ryu yang pernah aku kenal? Bahkan dulu dia selalu memarahiku setiap
kali aku memanggilnya Pangeran.
“Baiklah Pangeran. Aku ingin mengatakan yang sebenarnya
bahwa…” belum selesai aku berbicara, Ryu pergi meninggalkanku. Dengan cepat aku
berlari menghentikannya.
“Hey! Minggir gadis buruk rupa! Beraninya kau menghalangi
jalanku!”, teriak Ryu memarahiku.
“Sebentar saja. Ada yang harus kusampaikan padamu”
“Pengawal! Cepat bawa dia ke istana dan bunuh dia!”
Dengan cepat para pengawal itu mengikat tangan dan menutup
mulutku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha mengelak, namun kekuatan para
pengawal itu bisa mengalahkan kekuatanku.
@ Istana
“Aisss.. Sakit sekali..”, ringisku pada tangan-tanganku yang telah
terikat oleh rantai. Tiba-tiba satang seorang wanita dengan wajah kesal
berjalan ke arahku. Semua pengawal itupun memberi salam penghormatan padanya.
Pasti dia Ratu di kerajaan ini. Pasti dia ibu Ryu. Tamatlah riwayatku…
“Pengawal?! Apa ini perbuatan Ryu lagi?!”, teriaknya pada salah
satu pengawal di ruangan ini.
“Benar Yang Mulia. Gadis ini sudah berani bersikap lantang pada Pangeran
Ryu. Dia pantas dihukum mati”
“Anak itu.. Dari dulu selalu bersikap seenaknya saja. Cepat
lepaskan dia!”
“Tapi Yang Mulia..”
“Jangan membantah!”
“Ba-baik Yang Mulia”
Dengan cepat pengawal itu menurunkanku dan melepaskan semu rantai
yang mengkati tanganku.
“T-terimakasih Yang Mulia!”, kataku pada Yang Mulia Ratu.
“Tidak, justu akulah yang harus minta maaf karena kesewenangan
yang telah anakku lakukan padamu”, ucapnya sambil memegang tanganku.
“Tidak Yang Mulia. Orang miskin sepertiku memang pantas dihukum”
“Hmm.. Kalau boleh tahu
siapa namamu?”
“So-Sora”, ucapku gugup.
“Hmm.. Baiklah Sora, sebagai gantinya apa kau mau menjadi pelayan
di istana ini?”
Pelayan? Yang benar saja! Bagaimana bisa Putri sepertiku menjadi
seorang pelayan? Tapi.. Bukankah dengan menjadi pelayan di istana ini aku bisa terus
melihat Ryu?
“Baiklah.. Terimakasih banyak Yang Mulia”, kataku sambil menunduk
hormat.
“Sama-sama”, kata Yang Mulia sambil tersenyum.
Astaga… Aku seperti melihat sesosok malaikat sedang berdiri di
depanku. Ibunya Ryu benar-benar baik, tidak seperti Ryu yang kejam padaku.
@
Dapur Istana
“Sial”, gerutuku pada
baju pelayan yang sedang kupakai. Yang benar saja aku harus memakai baju
terkutuk ini? Selintas teringat di benakku tentang masa lalu saat aku masih
berada di bulan. Dulu, aku sering bersikap seenaknya pada pelayan-pelatan
sanpai-sampai aku tidak bisa menghitung sudah berapa pelayan yang kabur akibat
dari perbuatanku.
“Hey! Pemalas! Enak saja kau duduk santai disini. Cepat sana
bawa semua makanan ini!”, kata seorang wanita tua yang berdiri di depanku.
Sepertinya dia kepala pelayan di istana ini.
“Siapa kau? Beraninya kau menyuruhku mengangkat semua
makanan ini! Kau tak tahu siapa aku, hah?!”, ucapku kesal.
“Pelayan rendahan istana. Cepat bereskan semuanya, kalau
tidak aku tidak akan memberimu jatah makanan hari ini!”
Apa? Demi mendapat jatah makanan semua pelayan harus bekerja
seperti ini?
“Kruyuuuk”, tiba-tiba perutku memanggil, member isyarat agar
segera diberi makanan.
“Ya ya.. Baiklah..”, ucapku terpaksa.
Dengan
hati-hati aku membawa semua makanan ke ruang aula istana. Terlihat banyak orang
yang memadati ruangan ini. Sepertinya disini sedang ada jamuan makan. Dengan
malu aku berusaha membereskan semua makanan secepat mungkin.
@ Taman
“Huh.. Akhirnya selesai juga”, ucapku sambil duduk di atas
rerumputan.
Aku ingat, jalan inilah yang pernah kulewati saat pertama kali aku
datang kesini. Tiba-tiba tampak sepasang kaki sedang berdiri di depanku. Dengan
wajah memelas, anak kecil itu meminta sepotong roti yang kugenggam sedari tadi.
“Yaaa!!! Siapa kau?! Enak saja! Kau tahu berapa sulitnya aku
mendapatkan sepotong roti ini?! Pergi sana! Dasar orang miskin!”, ucapku sambil
mendorong anak kecil itu hingga jatuh tersugkur. Sambil menangis, anak kecil
itu berlari pergi meninggalkanku. Dengan cepat aku menghabiskan rotiku lalu
pergi meninggalkan tempat ini.
“Seperti
dedaunan yang tidak pernah menyalahkan angin karena telah membuatnya terlepas
daritangkainya”
Semilir angin
yang melintas di depanku, menghembuskan bau dedaunan yang membawa harum kerinduan.
Selintas terbayang di benakku tentang rekaman masa lalu. Langit yang biru,
kicauan burung, dan pepohonan hijau, semua terekam jelas di dalam memori
otakku.
Pandanganku
terhenti pada sesuatu di depan sana. Pemandangan yang sangat menyakitkan
bagiku. Ryu? Siapa dia? Kenapa dia yang harus duduk di sampingmu?
“Semua hilang, habis tak bersisa hanya karena satu orang”, ucapku
dengan suara getar.
Dengan cepat aku berlari menghampiri Ryu.
“Ryu? Siapa dia?”, Tanya gadis itu pada Ryu.
“Tenang, Sena. Dia hanya pelayan rendahan. Hey! Berani-beraninya
kau menggangguku! Cepat sana lakukan pekerjaanmu sendiri!”
“Maaf, Tuan. Tapi Anda diperintahkan untuk menemui Yang Mulia Ratu
sekarang”
Astaga… Apa yang barusan aku katakana? Kenapa aku bisa memiliki
keberanian seperti ini?
“Heeeh.. Ibu… Selalu saja.. Maaf ya Sena, aku harus pergi
sekarang. Lain kali kita akan ngobrol lagi. Sampai jumpa! Aku pasti akan merindukanmu”,
ucap Ryu dengan senyuman tulus.
Apa? Merindukan?
Hatiku terasa remuk, hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.
“Ayo”, ucapku sambil mengepalkan tanganku.
** *
Dengan cepat
Ryu berjalan meninggalkan aku yang terdiam di belakangnya. Dari jauh aku aku
hanya menantap punggung Ryu, berusaha untuk menyimpan semua kata-kata yang
tersimpan di dalam hatiku.
“Ryu, apa kau benar-benar menyukai gadis itu?”, tanyaku penasaran.
“Tentu saja. Eh, apa katamu? Ryu? Beraninya kau!”, ucapnya sambil
mengancungkan tangannya ke arahku.
“Ma-maaf Pangeran. Ta-tapi kenapa bisa kau menyukainya?”
“Itu bukan urusanmu!”, ucapnya kasar.
“Hmm..”, kataku sambil menghela napas, berusaha untuk menghapus
semua kegelisahan di dalam hatiku.
@Istana
Dengan
langkah hati-hati aku menyusuri lorong istana. Tak lama kemudian Ryu dating menghampiriku.
"Matilah aku”, ucapku dengan suara kecil.
“Hei pelayan! Mulai sekarang kau jadi pelayan pribadiku”
“P-pelayan pribadi? Apa Yang Mulia Ratu yangmengatakannya padamu?”
“Iya. Tapi kau harus ingat 3 hal. Jangan dekati aku, jangan
menolongku, dan jangan menyentuhku. Mengerti?”
“B-baik Tuan”
Apa? Yang Mulia Ratu menyuruhku untuk menjadi pelayan pribadi Ryu?
Bukankah Yang Mulia Ratu seharusnya marah karena kebohongan yang telah aku
lakukan? Benar-benar aneh. Apa Yang Mulia Ratu benar-benar menyukaiku? Ah, aku
tidak peduli. Yang penting dengan cara ini aku bisa lebih dekat dengan Ryu.
Esok harinya…
Hari ini
adalah waktunya Pangeran latihan memanah. Temapt ini memang bagus, tapi
letaknya terpencil dan jauh dari istana. Letaknya tinggi di atas bukit.
Dari jauh aku
hanya memandangi Ryu dan Kak Kyu sedang asyik memanah. Astaga, Ryu terlihat
sangat tampan dengan pengkat kepala dan baju panjang itu.
“Hebat!”, seruku saat melihat busur yang ditembak Ryu berhasil
menembus lingkaran tengah.
“Bagus, Ryu! Kau berkembang pesat”, puji kak Kyu.
“Hahaha… Terimakasih kak. Karena guru pemanahku adalah kak Kyu
mangkanya ak bisa berkembang sampai sejauh ini”
“Hmm… Ryu? Bagaimana jamuan makan malammu dengan calon ayah
mertuamu?”
Apa? Ayah mertua? Pasti itu ayahnya Sena.
“Begitulah kak… Aku benar-benar terkejut saat Jenderal Kyoto
mengajakku untuk berlatih pedang bersamanya. Yang kita tahu, Jenderal adalah
prajurit paling hebat senegeri bahkan sedunia ini kan?”
“Mmm.. Lalu, bagaimana dengan rencana pernikahanmu dengan Sena?”
“Entahlah… Sepertinya akan aku lakukan dalam jangka waktu beberapa
hari ini. Aku sudah tidak sabar untuk menjadikannya sebagai calon pendampingku.
Aku benar-benar menantinya”
Apa? Pernikahan? Tidak bisa! Ryu tidak bisa menikah dengan Sena!
“Apa kau yakin, Ryu? Bagaimana jika Sena menolak lamaranmu?”, Tanya
kak Kyu.
“Itu tidak mungkin. Dia tidak mungkin menolak Pangeran sepertiku”
“Hmm… Terserah padamu saja.. Ayo kita kembali ke istana”
“Baik”
Hmm.. Aku
tidak tahu apakah benar hanya perasaanku yang salah, tapi dari yang kulihat
sepertinya kak Kyu tidak senang saat mendengar kabar tentang pernikahan Ryu
tadi. Ah! Masa bodoh! Entahlah, aku tidak peduli!
1 minggu
kemudian…
Hari ini
adalah hari pernikahan Ryu dengan Sena. Rasa bahagia tergambar jelas diraut
wajah Ryu. Sungguh menyayat hatiku. Bahkan aku tidak dapat melihat keindahan
taman pagi ini. Semuanya gelap, tidak tergambar begitu jelas.
“Ryu, eh Pangeran. Sepertinya kau sangat senang?”, tanyaku dengan
suara lemah.
“Tentu saja. Ini adalah hal yang aku impikan sejak dulu”, ucapnya
sambil tersenyum.
“Apa kau begitu mencintainya?”
“Sangat. Bahkan dalamnya lautan tidak dapat mengukur cintaku”
Jleb. Hatiku terasa seperti tertusuk benda tajam. Ayah, aku tidak
tahan dengan semua ini. Maafkan aku ayah…
“Ryu.. Sebenarnya aku..”
Tiba-tiba ada sebuah busur panah yang mengarah kepadaku. Dengan cepat
Ryu menarikku padanya.
“Jleb” Busur itu menancap di bahu Ryu.
“Ryu.. Kau kenapa Ryu.. Bertahanlah Ryu”, teriakku saat aku
melihat banyak darah yang berlumuran di bajunya. Tak lama kemudian Ryu pingsan
tak sadarkan diri.
“Ryu!!! Tolong jangan pergi Ryu!!! Ryuuuu!!!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar